Sejarah Sungai Kapuas Kalimantan Barat

Indonesia memilki segala macam bentuk kenampakan alam yang begitu indah. Tidak hanya kenampakan alamnya saja, namun juga sumber daya alamnya yang melimpah menjadikan Indonesia sebagai negara yang cukup unggul di kawasan ASEAN. Berbicara mengenai kenampakan alam, Indonesia sendiri bisa dikatakan hampir memiliki semua kenampakan alam yang ada di seluruh dunia. Terletak di garis khatulistiwa serta diapit oleh 2 samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta berada di antara 2 benua yaitu Benua Australia dan Benua Asia menjadikan Indonesia sebagai negara yang cukup strategis di kawasan Asia


.
Julukan sebagai salah satu negara maritim tentu tidak mungkin dipisahkan dari kawasan yang bernama perairan. Selain dikelilingi oleh lautan, Indonesia juga mempunyai kawasan perairan lain seperti danau dan juga sungai. Berbicara mengenai sungai, ada lebih dari 300 sungai yang tersebar di seluruh pulau – pulau di Indonesia. Setiap sungai yang ada mempunyai sejarah dan fungsi yang berbeda – beda di setiap tempat di mana sungai itu berada.

Dahulu orang – orang akan memanfaatkan sungai sebagai sumber air yang dapat manfaatkan kapanpun. Tidak hanya itu, sungai juga dijadikan sebagai jalur air untuk pergi ke suatu tempat. Sebelum dibangun jembatan, biasanya akan banyak ditemukan parahu atau getek untuk membantu orang – orang dalam menyebrangi sungai. Tidak semua sungai yang ada di Indonesia mempunyai ciri dan karakteristik yang sama. Hal itu dapat dilihat dari lebar sungai, debit air sungai, arus air serta keanekaragaman hayati apa saja yang dapat ditemukan di dalam maupun di sekitar sungai. Dan salah satu sungai yang paling terkenal dan menjadi sungai paling panjang di Indonesia adalah Sungai Kapuas. Nah untuk mengetahui lebih jelasnya, berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai Sungai Kapuas.

Sejarah dan Karakteristik Sungai Kapuas

Tercatat jika sungai ini masuk ke dalam sungai terpanjang tidak hanya di Pulau Kalimantan saja, namun juga di Indonesia. Panjang dari Sungai Kapuas sendiri yaitu sekitar 1.143 km dengan sumber air atau hulu berasal dari Pegunungan Muller, Kabupaten Putussibau untuk kemudian mengalir melewati Kabupaten Sintang, Sekadau, Sanggau dan berakhir pada Selat Karimata atau lebih tepatnya berada di sekitar Kota Pontianak. Lebar dari Sungai Kapuas bervariasi yaitu antara 70 hingga 150 meter dan salah satu keunikan sungai ini yaitu tidak pernah mengalami kekeringan selama musim kemarau.

Terdapat Sungai Kapuas lainnya yang terdapat di Kalimantan Tengah tepatnya berada di Kabupaten Kapuas. Panjang Sungai Kapuas ini sekitar 610 km dimulai dari Kecamatan Kapuas Hulu dan aliran sungainya terus mengalir hingga bermuara di Laut Jawa atau tepatnya berada di Kecamatan Selat. Pada Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah, sumber mata airnya berada di dataran yang cukup tinggi, namun tipe sungai ini tidak terlalu lebar. Tidak heran jika musim hujan tiba terutama di daerah hulu, volume air sungai mudah mengalami peningkatan hingga dapat melebar ke desa – desa sekitar. Meskipun dataran yang berada di bagian hilir sungai lebih rendah, namun lebar sungai lebih lebar sehingga kenaikan volume saat hujan tidak terlalu berdampak besar.

Menurut sejarah, nama Kapuas sendiri berasal dari nama daerah yang juga bernama Kapuas. Hingga tidak heran jika sungai yang mengalir dari Kapuas Hulu sampai ke tempat bermuara diberi nama Kapuas. Pada masa Kesultanan Banjar, Sungai Kapuas diberi nama Sungai Batang Lawai hal ini disesuaikan dari nama suatu daerah yaitu Lawie atau Lawai (sekarang bernama Melawi). Pemberian nama tersebut berdasarkan atas tempat mengalirnya sungai tersebut yang masuk di kawasan Kabupaten Melawi hingga terus mengalir dan bermuara di sekitar Kota Pontianak.

Dahulu Sungai Kapuas dijadikan sebagai jalur transportasi yang sangat penting terutama di Kalimantan Barat. Pada masa pemerintahan Belanda, Sungai Kapuas menjadi tempat yang paling strategis dan mereka kuasai. Sebab Sungai Kapuas menjadi tempat terjadinya transaksi barang dagang, pengiriman supply dan lain sebagainya yang ada di wilayah Kalimantan Barat. Pada masa penjajahan, sungai ini ikut berperan dalam memperjuangan bangsa Indonesia. Tahun 1963, Sungai Kapuas dijadikan sebagai jalur mobilisasi pasukan dari Pontianak menuju ke sepanjang perbatasan dengan menggunakan perahu motor.

Sebagain besar di wilayah borneo barat ditutupi oleh hutan-hutan tropis, dan aliran-aliran sungai yang panjang. Sungai-sungai tersebut merupakan jalur  transportasi penghubung antar daerah.

Sungai merupakan sumber kehidupan masyarakat borneo sehingga ditepi tepian sungai terdapat pemukiman pemukiman penduduk yang didiami oleh masyarakat borneo baik dayak, melayu ataupun cina.

Sungai utama yang mengalir diborneo bagian barat adalah sungai kapuas.  Sungai yang mengah ini bersumber di jantung pulai ini, kira-kira kordinat 114 derajat bujur timur. Namun hingga saat ini belum ditemukan orang eropa atau pun setempat menemukan sumber air dari  sungai ini. Sungai terpanjang di borneo ini mengalir keperdalaman borneo dan memiliki anak-anak sungai.

Jika dilihat secara geografis, sugai kapuas ini mengalir melewati wilayah Pontianak, Kubu, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, dan wilayah Kapuas Hulu. Jarak-jarak antara titik-titik utama yang dialiri sungai kapuas memperhitung kelokan-kelokan sungai yang besarnya saja masing-masing adalah 84,55 dan 75 Pal.

Sebagai jalur transportasi utama di sungai kapuas, kapal bandong merupakan alat transportasi utama untuk perjalanan ke hulu sungai kapuas. Melihat kedalaman kapuas diantara 20-30 kaki sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan dengan kapal bandung yang hanya 3-4 kaki. Jika dimusim penghujan, kedalaman air bisa mencapai lebih dari 30 kaki dan mengalami kebanjiran di berada wilayah-wilayah pesisir sungai kapuas.

Diwilayah sintang, sungai kapuas bertemu dengan sungai melawi, yang merupakan cabang terbesar dari sungai kapuas. Sungai ini dikenal dengan sungai simpang kanan yang mengarah ke Nanga Pinoh. Sedangkan sungai yang mengarah ke Hulu sungai (kapuas hulu) disebut dengan simpang kiri. Sungai kapuas tersebut akan mengalir ke anak sungai baru yang ditemui diperdalaman borneo dapat dikatakan cukup banyak. Hampir ditiap daerah memiliki anak cabang kapuas, atau anak sungai yang langsung bermuara ke sungai kapuas.

Sepanjang aliran sungai kapuas ini terdapat sejumlah besar sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan yang membatasi daerah aliran sungai yang menuju ke sungai kapuas. Sehingga jika keadaan tersebut mengakibatkan volume air sungai kapaus akan bertambah dan akan dibawa ke laut.

Diantara banyak anak sungai yang bermuara ke sungai kapuas, akan dijumpai warna-warna sungai yang bermacam-macam juga. Ada yang berwarna hitam pekat, coklat tua, coklat, dan kehijuan. Hal ini diakibatkan karena berbagai macam sifat-sifat tumbuhan-tumbuhan yang terdapat di hutan yang dilewati sungai.

Pemukiman Awal Sungai Kapuas

Para filsuf sejarah mengatakan bahwa sejarah adalah dialektika antara kontinuitas dan diskuntinuitas, suksesi antara order dan change, atau semboyan yang terkenal dari soekarno sejarah adalah semacam simponi revolusioner dari usaha menjebol dan membangun, bila dihubungkan dengan kebudayaan akan ada dialek dua dimensi kebudayaan. Menurut Kleden, bahwa kebudayaan adalah dialek antara ketenangan dengan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integritas dan disintegritas, antara tradisi dan reformasi. Karena tanpa tradisi atau tanpa integrasi suatu kebudayan menjadi tanpa identitas sedangkan tanpa reformasi atau disintegrasi suatu kebudayaan akan kehilangan kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang, untuk memperbahauri  diri, atau untuk menyesuaikan diri dengan paksaan perubahan sosial (Kleden,1986).

Tidak ada sumber yang betul-betul memadai untuk menggambarkan bagaimana bentuk pemukiman awal masyarakat tradisional Kalimantan Barat yang mendiami pinggiran sungai kapuas. Sebaran dan bentuk pemukiman yang ada di kabupaten dan kota dan kecamatan yang ada di Kalimantan Barat merupakan hasil dari proses pemikiran manusia dalam menciptakan ruang kehidupannya sesuai dengan kondisi, site, geografis, terus berkembang sesuai dengan alur sejarah yang mengikutinya. Pemukiman ini lahir dipengahruihi oleh adat istiadat, agama, mata pencaharian dan bidang kehidupan lainnya dengan kodisi yang alamiah, sehingga sehingga lahir satu pola kota organik yang berorientasi pada alam. Dan mempunyai pola sosial yang kuat dan unik.

Terbentukanya pola pemukiman masrayarat di pinggirian aliran sungai kapuas adalah poroses untuk membentuk suatu kawasan yang terencana yang kemudian dapat mengantur kehidupan masyarakat yang pasti suatu saat nanti semakin kompleks. Salah satu bentuk konsep yang terlihat pada pola penggunaan tanah yang merupakan struktur serta faktor yang mempengaruhinya.

Ada beberapa bentuk atau pola pemukiman awal masyarakat di sepanjang sungai kapuas beserta anak-anak sungainya:

1. Pola mengelompok

Dareah pemukiman cenderung tumbuh secara mengelompok pada pusat kegiatan. Perumahan tumbuh secara tidak terencana, hal ini menyebabkan keseimbangan alam terganggu. Jika pertumbuhan tidak terkendali maka daerah dekat pusat kegiatan menjadi padat dan cenderung menjadi daerah yang kumuh.

Berdasarkan hasil observasi pola seperti ini terjadi di daerah danau, daerah aliran sungai, muara. Pusat pemukiman oleh sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat dikenal dengan istilah “nanga”. Tidak jarang kata nanga akhirnya dijadikan nama daerah.

2. Pola menyebar

Pada pola ini daerah pemukinanya tumbuh tersebar, sehingga jangkauan fasilitas umumnya sulit dan tidak merata.

3. Pola memanjang

Daerah pemukiannya tumbuh mengikuti tepian-tepain sungai, dan danau. Sehinga terbentuk pemukiman-pemukiman linier di sepanjang tepian. Jika pertumbuhan pemukiman ini tidak terkendali maka kelestarian sumber daya alam yang terancam rusak (Kusnoto dan Firmasyah, 2015:78).


Aliran Sungai kapuas memiliki anak-anak sungai. Anak-anak sungai ini berfungsi sebagai penghubung permukiman dengan daerah penghasil komoditas pertanian dan barang-barang perdagangan lainnya. Pola sungai seperti ini menarik bagi masyarakat awal di tepi sungai kapuas membentuk pola pemukiman mengelompok dan memanjang mengikuti aliran sungai kapuas mapun anak-anak sungai (kanal/parit) (Hasanuddin, 2014: 39).

Secara umum menurut Ethoven (Sjamsudin, 2013: 32) daerah aliran sungai kapuas dibagi atas tiga bagian besar yaitu bagian atas atau hulu yaitu dari ujung paling atas sungai sampai ke Kota Putusibau.

Bagian kedua, dari Putussibau ke hilir sampai ke Tayan terbentuk delata, dari tayan sampai kel muara sungai aau laut disebut sungai bawah atau hilir. Pola pemukiman masyarakat dari Ketiga bagian sungai kapuas ini memilki ciri masing- masing dan berkembang sesuai dengan pola pemerintahan yang berkuasa pada masa itu.

Beberarpa pola pemukiman awal yang berada di bagian hulu sungai kapuas seperti bunut sebagian besar masih sangat sederhana, kecil dan terbuat dari bahan bangunan yang tidak tahan lama (kayu dengan kualitas rendah, kulit kayu untuk atap, dan bambu. Untuk menyesuaikan dengan pasang surutnya air sungai rumah dibuat bertiang. Sementara satu-satunya penghubung antar rumah dibuat pangkalan yang sederhana. Pola lain masyarakat Bunut di tepi sungai tebaung anak sungai kapuas untuk satu rumah bisa di diami delapan keluarga yang juga sangat sederhana  (Ethoven dalam Vandijk, 2016:32).

Berkembangnya pemukiman di sepanjang aliran sungai kapuas disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, ; a) sungai sebagai satu-satunya jalur transportasi yang efektif ke dunia luar atau sebaliknya; b) sungai sebagai sumber penghidupan (pertanian, hasil hutan dan lain-lain) fungsi sungai seperti ini kebanyakan ada di bagian hulu, sementara di bagian tengah dan hilir

lebih dipergunakan sebagai alat transportasi dan perikanan karena tanahnya berawah[1]rawah; c) dimuara-muara sungai tempat bertemunya golongan masyarakat yang beraneka ragam sehingga kondisi ini memungkinkan bagi masyarakat untuk bermukim untuk menambah interaksi dengan dunia luar. Hanya saja untuk muara sungai tidak semua bisa di tempati oleh masyarakat awal tepian sungai kapuas.

Sebagai contoh Untuk wilayah muara sungai kapuas terutama di tepian kanan sungai kapuas tidak banyak ditempati penduduk karena diperuntukkan untuk perkebunan kelapa mulai dari Batu Layang sampai ke Peniti Besar. Selain itu jug diperuntukan sebagai lahan sawah. Karena wilayah sudah berdekatan dengan laut apabila terjadi pasang maka air akan meluap, meskipun sudah dibangun terusan tetapi tetap tidak bisa menampung air pasang. Kondisi lahan seperti ini tidak menguntungkan bagi penduduk untuk menempati wilyah tersebut Ethoven dalam (Vandijk, 2016:259).

Berkembangnya tepian sungai kapuas sebagai pusat keramaian dengan berbagai pola sistem yang terbentuk ini Sehingga tidak mengherankan jika di beberapa wilayah pinggiran sungai kapuas terbentuk kerajaan-kerajaan melayu yang cukup berpengaruh dalam perkembangan masyarakat Kalimantan Barat seperti tayan, meliau, sangggau, sekadau, Sintang, Silat, Selimbau, Piasa, Suhaid, Jongkong, dan Bunut Ozinga (Sjamsuddin, 2013: 49).

Untuk menjalin komunikasi antar rumah pada pemukinan masyarakat dibangun jembatan-jembatan kecil atau istilah masyarakat setempat adalah geretak (Linti/ lenti/titian). bahannya terbuat dari kayu, biasanya kayu belian (ulin) dan kayu Tembesu. Lebar geretak ini rata-rata antara 1- 1,5 meter dengan tinggi 2 sampai 3 meter diatas permukaan air. Pembuatan geretak  dahulunya sudah melalui perhitungan dan kearifan yang baik oleh masyarakat. Pada bagian tengah bangunan geretak ini agak meninggi agar perahu-perahu atau alat transportasi lainnya bisa melewatinya.



Beberapa Fakta Menarik Sungai Kapuas

1.Jembatan Kapuas

Pada tahun 1980, dibangunlah sebuah jembatan yang berguna menghubungkan Kota Pontianak dengan beberapa daerah yang berada di Provinsi Kalimantan Barat. Jembatan Kapuas I ini berada di Kota Pontianak dengan panjang jembatan mencapai 420 meter dan lebar sekitar 6 meter. Pada awalnya jembatan ini merupakan jalan tol yang artinya setiap pengguna jembatan ini harus dikenakan tarif. Akan tetapi status jembatan tersebut berubah menjadi jalan utama sebab tidak ada jalur lain selain jembatan itu sendiri. Hingga pada pertengahan tahun 1990 jembatan Kapuas I bebas dilalui oleh pengguna kendaraan apapun.


2.Habitat Ikan Endemik

Tidak hanya tercatat sebagai sungai terpanjang di Indonesia saja, Sungai Kapuas juga menjadi rumah dari lebih dari 700 jenis ikan air tawar dan 12 jenis di antaranya termasuk ikan langka serta 40 jenis ikan lainnya terancam punah. Ikan – ikan tersebut antara lain patin, gurame, tapah, dan lain sebagainya. Salah satu ikan yang menjadi hewan endemik Sungai Kapuas apa lagi jika bukan ikan Arwana Super Red. Ikan ini banyak diburu orang para pecinta ikan hias karena warna dari sisik ikan arwana berwarna merah yang cantik. Tidak heran jika harga jual ikan arwana bisa mencapai puluhan juta untuk setiap ekornya.

3.Dijadikan Logo Pemerintah Kota Pontianak

Sebagai bentuk penghargaan terhadap sumber daya alam yang ada, Pemeritah Kota Pontianak memasukan gambar Sungai Kapuas pada logo Pemerintah Kota Pontianak. Sekilas gambar tersebut mirip dengan huruf Y yang terbalik, namun itu adalah gambar dari Sungai Kapuas yang membelah Provinsi Kalimantan. Terbelah atau bercabanganya Sungai Kapuas tersebut dapat dilihat dari atas Jembatan Kapuas II atau di Masjid Jami.

4.Menjadi Titik 0

Seperti yang kita ketahui jika Kota Pontianak merupakan salah satu kota yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Tahukah di mana titik tepatnya lokasi 0 derajat, 0 menit, 0 detik tersebut. Ternyata titik tersebut berada di 117 meter ke arah Sungai Kapuas. Akan tetapi Pemerintah Kota Pontianak telah membangung sebuah tugu di atas sebuah taman. Setiap tahunnya di tugu tersebut selalu ramai di datangi oleh wisatawan terutama saat peristiwa kulminasi terjadi. Kulminasi sendiri merupakan salah satu fenomena alam yaitu matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa.

5. Merupakan Sungai Terpanjang di Indonesia 

Sungai Kapuas di Pulau Kalimantan dikenal sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Panjang Sungai Kapuas mencapai 1.143 kilometer dengan hulu di Pegunungan Muller dan hilirnya di Selat Karimata. Hal ini menjadikan sungai ini menjadi salah satu aspek penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. 

6. Asal Nama Sungai Kapuas 

Nama sungai terpanjang di Indonesia ini diambil dari nama daerah yang kini dikenal sebagai Kapuas Hulu. Namun beberapa warga lokal menyebut sungai ini dengan nama lain yaitu Sungai Kapuas Buhung. Sungai ini juga sering disebut dengan Sungai Batang Lawai (Laue). 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad